5 Filosofi Jawa Untuk Menata Kehidupan

Filosofi orang (etnis) Jawa umumnya memakai unen-unen  (peribahasa) untuk menata kehidupan manusia. Terkadang di era modern ini, makna dari ungkapan filosofi Jawa ini sudah jarang didengar bahkan tidak dipahami oleh sebagian besar etnis Jawa. Filosofi atau filsafat Jawa merupakan warisan budaya yang mampu menambah wawasan kebijaksanaan dan mengajarkan hidup kita agar  senantiasa “Eling lan Waspodo” dan berlaku terus sepanjang waktu.
5 Filosofi Jawa Untuk Menata Kehidupan

Berikut 5 Filosofi Jawa Untuk Menata Kehidupan

 

1. Nrimo Ing Pandum (Menerima Pemberian Dari Yang Kuasa)

Filosofi Jawa ini mengajarkan kita untuk bersikap jujur, ikhlas, dan menerima dengan lapang dada apapun hasil dari usaha yang telah dikerjakan.

2. Urip Iku Urup (Hidup Itu Nyala)

Filosofi Jawa ini memberi makna bahwa hidup hendaknya bisa memberikan manfaat kepada orang lain yang berada di sekitar kita.

3. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak)

Filosofi Jawa ini memberi makna bahwa kita harus mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga, kita juga harus ikut berperan memerangi sifat angkara murka. Sifat angkara murka dan tamak adalah awal dari kerusakan moral yang harus dijauhi, karena efeknya sangat buruk.

4. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi)

Filosofi Jawa ini memberi makna bahwa kita jangan terperdaya dengan kehidupan duniawi belaka. Kita sudah harus sadar bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara dan bukan sebagai tujuan akhir.

5. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka)

Filosofi Jawa ini memberi makna bahwa kita merasa paling bisa dan paling pandai adalah tabiat yang tidak baik, karena bisa membuat kita sombong dan juga malas untuk terus belajar.