Menjadi Karyawan Yang Profesional

Menjadi seorang karyawan yang profesional itu adalah pegawai yang berpengetahuan, pegawai yang memahami pekerjaannya dengan baik. Beberapa hal yang dapat atau yang mungkin bisa kita jadikan ukuran untuk menilai diri sendiri adalah dapat memahami dengan baik bagaimana dapat menilai profesionalisme diri sendiri.

 Menjadi Pegawai Yang Profesional

Berikut referensi yang sederhana untuk mendefinisikan label ‘profesional’ bagi seorang karyawan atau pegawai.

1. Rasa ingin tahu yang besar

Karyawan yang berpengetahuan selalu ingin melakukan tugasnya dengan cara yang lebih baik. Pastikan Anda memahami alasan Anda harus melakukan tugas yang dibebankan kepada Anda, bagaimana cara terbaik untuk melaksanakannya, apa pengaruh hasil pekerjaan Anda terhadap kinerja unit kerja Anda, terhadap kinerja kantor Anda dan jangan pernah sekedar ‘melakukan tugas sesuai prosedur’.

Sebenarnya tidak banyak pekerjaan yang sepenuhnya bisa dikerjakan semata-mata berdasarkan prosedur, masih banyak ruang yang harus kita isi, berdasarkan kemampuan kita, diluar prosedur yang sudah digariskan. Tentu bukan hal yang salah jika kita mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, tetapi jika Anda ‘sekedar memenuhi prosedur’ maka Anda akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kesenangan dalam bekerja. Carilah sebanyak mungkin referensi, cari tahulah bagaimana caranya agar tugas sehari-hari Anda dapat dikerjakan dengan lebih baik dan lebih menyenangkan.

Di sekitar Anda pasti banyak rekan kerja yang siap melakukan sharing, atau pimpinan yang akan membantu Anda memenuhi rasa ingin tahu Anda. Atau Anda berharap ada buku pintar yang sangat tebal yang bisa menjawab semua permasalahan kerja yang Anda hadapi ? Barangkali kalau buku itu memang ada, jangan-jangan keberadaan pegawai sebaik Anda tidak diperlukan lagi di posisi Anda saat ini, karena siapapun yang bisa membaca buku itu akan bisa bekerja sebaik Anda.

2. Perhatian kepada detil pekerjaan

Karyawan yang berpengetahuan sangat peduli dengan detil pekerjaan yang dilakukannya, untuk mencari celah perbaikan yang masih mungkin dilakukan. Apakah posisi pekerjaan Anda saat ini? Sudah berapa lama Anda dalam posisi tersebut? Seberapa sering Anda meng-evaluasi cara kerja dan hasil pekerjaan Anda ? Perhatian kepada detil pekerjaan adalah ‘saudara dekat’ dari rasa ingin tahu. Tidak mungkin kita memperhatikan hal yang detil kalau kita tidak ingin tahu tentang pekerjaan kita.

Dengan memperhatikan cara kerja dan hasil kerja secara detil, maka kita akan dapat menemukan kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan, perhatian kepada detil pekerjaan akan membuka jalan bagi kita untuk menemukan cara yang lebih efektif atau lebih efisien dalam mengerjakan tugas, yang berarti kita akan menjadi semakin produktif. Perhatian kepada detil pekerjaan juga akan membuka pintu pemahaman kita terhadap pekerjaan rekan kerja kita, sehingga kita semakin sadar akan perlunya kerjasama dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kita.

3. Kemampuan membaca secara cepat dan komprehensif

Seperti mengukur kualitas informasi, tingkat pengetahuan kita dapat diukur dari ketepatan (accuracy) dan ketepatan waktu (timely) kita dalam menyelesaikan tugas. Karena itu kemampuan membaca secara komprehensif dan cepat sangat dibutuhkan bagi Anda, terutama dalam posisi pengambil keputusan. Berapa cepat Anda dapat memahami masalah yang tertuang dalam surat yang Anda terima, berapa cepat Anda bisa menemukan referensi sebagai bahan arahan bagi bawahan Anda, berapa cepat Anda bisa menilai tepat / tidaknya draft yang diajukan oleh staf Anda ? Semua itu sangat ditentukan oleh seberapa jauh Anda mampu membaca dan memahami secara komprehensif dalam waktu yang terbatas.

Ketepatan adalah prinsip utama yang harus dipegang teguh sehingga Anda memang harus berhati-hati dalam mengambil keputusan, tetapi jika Anda menerima banyak surat / permasalahan yang harus dijawab dan diselesaikan, tentu menumpuknya berbagai konsep dan jawaban di meja kerja Anda -sebagai buah terlalu hati-hatinya Anda- bukanlah hal yang diinginkan oleh perusahaan, apalagi oleh pihak-pihak yang nasibnya tergantung dari putusan Anda.

4. Perhatian dan pemahaman terhadap bidang pekerjaan lain

Seperti halnya seorang wartawan yang perlu memahami objek liputannya (disamping keterampilan menulis), atau seorang guru yang perlu memiliki pengalaman nyata dari bahan ajar yang disampaikannya (disamping memahami teknik-teknik mengajar), dimanapun posisi Anda, yakinlah bahwa Anda perlu memahami bidang pekerjaan lain, terutama yang terkait erat dengan bidang pekerjaan Anda.

Tidak ada unit kerja yang tidak dipengaruhi oleh unit kerja lain, dan tidak ada unit kerja yang tidak mempengaruhi unit kerja lain. Untuk itulah pemahaman pegawai teradap bidang pekerjaan lain menjadi penting agar koordinasi antar unit kerja dapat berjalan dengan harmonis, yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan.

5. Kemampuan belajar mandiri

Berapa besarkah resource (waktu dan biaya) yang dapat dialokasikan perusahaan untuk membekali kita dengan pelatihan-pelatihan yang kita butuhkan agar dapat bekerja dengan baik sesuai tuntutan kinerja? Jawabannya ‘tidak banyak’, atau bagi sebagian dari kita akan menjawab sangat sedikit (karena jarang sekali diikutkan training), sedangkan sebagian kecil akan berpendapat ‘banyak’, karena termasuk karyawan pilihan yang hadir hampir dalam setiap pelatihan.

Dalam kondisi seperti ini, maka kemampuan (dan kemauan) untuk belajar secara mandiri akan merupakan faktor pembeda yang signifikan antara kita sesama pegawai. Belajar tentu tidak hanya berarti harus duduk di bangku pelatihan atau lembaga pendidikan resmi lainnya, tetapi memahami permasalahan yang dihadapi dari perkembangan peraturan dari waktu ke waktu, meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan pimpinan atau rekan kerja yang lebih memahami aturan seringkali dapat menjadi media pembelajaran yang efketif.

6. Semangat kerja

Referensi yang ada untuk butir ini adalah ‘passion’. Apakah istilah yang tepat bagi Anda adalah ‘day attenders’, pegawai yang secara formal berada di kantor pada jam kerja, 5 hari seminggu dan sedikit sekali memikirkan apa yang harus dikerjakan agar waktu-waktu tersebut dapat memberikan manfaat bagi organisasi. Disinilah ‘passion’ berperan. Seorang ‘day attenders’ tidak akan termotivasi untuk belajar dan mencari tahu cara yang lebih baik untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, sementara pegawai yang memiliki semangat kerja (passion) yang tinggi akan lebih bermanfaat bagi organisasi.

7. Kemampuan komunikasi yang baik

Frasa kemampuan komunikasi disini tidak diartikan sebagai kemampuan verbal (mis. berbahasa Inggris) yang baik, atau menyusun kata-kata yang indah dalam surat-menyurat. Kemampuan berkomunikasi hendaknya diartikan sebagai kemampuan untuk menyampaikan ide dengan akurat dan efektif.

Karyawan yang berpengetahuan akan selalu mampu menyampaikan ide dan pemikirannya secara gamblang, menggunakan simbol-simbol bahasa lisan dan tulisan yang tegas dan akurat sehingga tidak menimbulkan multi tafsir. Kita juga harus mengukur sebaik apa kemampuan komunikasi kita dari kemampuan kita memahami, menangkap pesan yang disampaikan oleh rekan kerja kita secara tepat, termasuk didalamnya meminta penjelasan jika diperlukan agar pesan yang kita tangkap telah sesuai dengan yang dimaksud oleh rekan kerja kita. Kemampuan berkomunikasi yang baik memang harus berjalan dua arah, mendengar, mendengar dan bicara dengan sama baiknya.

8. Memahami keputusan pimpinan

Karywan yang berpengetahuan adalah juga pegawai yang ‘tahu diri’ yang teguh memegang kebijakan pimpinan. Barangkali ada sebagian dari kita yang mempunyai sifat tugas yang memerlukan keahlian khusus, sedangkan pimpinan kita kebetulan bukan orang yang memahami unsur teknis pekerjaan tersebut. Pimpinan adalah orang yang paling tahu tentang hal-hal yang bersifat strategis jangka panjang, yang kadang-kadang harus mengorbankan hal-hal teknisnya, demi kepentingan yang lebih besar bagi organisasi.

Ketika kita berhadapan dengan kondisi semacam itu, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mencoba memberikan penjelasan teknis (sekali-dua kali lagi) kepada pimpinan tentang apa yang kita anggap lebih baik dilakukan, berdiskusi atau bahkan berdebat semaksimal mungkin. Namun ketika pimpinan mengatakan, ‘Saya tahu bahwa ini keputusan yang secara teknis kurang menguntungkan, tetapi ada faktor lain yang harus saya pertimbangkan (dan tidak dapat saya sampaikan pada Anda), sehingga saya minta Anda melaksanakan hal ini’. Maka pegawai yang profesional akan tahu bahwa waktunya telah tiba untuk mengatakan, ‘You’re the boss’.

Barangkali Anda juga tidak sepakat dengan referensi sederhana ini, tapi setidaknya bisa memperkaya diri dengan hal-hal di atas. Seperti yang ditulis Kukuh S. Basuki dalam WBC.

 

Menjadi Karyawan Yang Profesional – Lentera Inspirasi