Menjadi Pembicara Yang Baik

Lentera Motivasi Hubungan. Berbicara atau bertutur adalah kegiatan menyampaikan informasi. Namun, bukan hanya sekedar apa yang disampaikan, tetapi pembicara juga memperhitungkan dampak informasi yang disampaikan bagi dirinya serta orang lainnya. Informasi yang disampaikan pembicara yang baik dan beradab akan bernilai kalau dapat dipercaya, akurat, tepat waktu serta sasaran, tepat pilihan kata dan nada penyampaian.

Berbicara tidak hanya membuka mulut, menggerakkan lidah dan mendorongkan kehendak, tetapi juga menjaga lisan, mengendalikan pikiran, mengarahkan ketepatan maksud. Karena itu ada adab atau tata cara untuk penyampaian informasi secara lisan dengan mengolah pikiran, perasaan dan memanifestasikannya dalam perilaku.

menjadi pembicara yang beradab

Menjadi Pembicara Baik dan Beradab

Pembicara yang baik memerlukan kebijakan, pengolahan pikiran dan perasaan. Artinya pembicara atau penutur memerlukan pertimbangan atas pilihan ungkapan, waktu, nada, ekspresi, dan sikap ketika berbicara.

Informasi hendaknya faktual

Informasi faktual meminimalkan penyimpangan berita. Jika informasi faktual diperkirakan membawa dampak mengejutkan, membuat syok, meruntuhkan daya tahan diri seseorang, sampaikan pendahuluan dengan referensi lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada tulisan dan pembicaraan ilmiah setiap informasi senantiasa mempunyai rujukan dari penulis atau peneliti lainnya. Maka untuk kejadian sehari-hari dalam berbicara, sediakan juga referensi yang dipercayai kebenarannya dari sumber resmi. Dapat digunakan contoh berita dari media atau kitab terpercaya.

Sebagai contoh: “Dalam surat kabar X, tanggal Y, pada halaman muka, disebutkan harga gas elpiji naik sehingga banyak orang beralih ke gas elpiji tabung 3 kg”, akan lebih baik daripada berbicara, “ Katanya akan ada kenaikan harga gas, nggak jelas apa maunya”.

Gunakan bahasa sesuai kemampuan pendengar

Bahasa memainkan peran utama dalam pembicaraan. Bahasa yang digunakan sesuaikan dengan tingkat kemampuan pemahaman, umur, pendidikan, latar belakang pendengar. Dalam tutur lisan beberapa etnik, digunakan bahasa secara berjenjang sesuai dengan urutan tatanan penutur dan pendengar dalam masyarakatnya. Sebagai contoh masyarakat Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam berbagai tingkatan ketika berinteraksi, antara adik dan kakak, antara ibu dan anak, antara nenek dan cucu, antara suami dan isteri dan seterusnya.

Pilihlah waktu yang tepat

Pemilihan waktu penyampaian juga mempengaruhi kemampuan cerna makna pembicaraan. Mereka yang sedang emosional akan mudah menyimpang dari arti bicara. Karena itu sering digunakan kata pendahuluan untuk membuat suasana lebih nyaman sebelum informasi sesungguhnya disampaikan. Kata basa-basi hendaklah bersifat umum, tidak menyinggung masalah pribadi, dan lebih baik menggunakan pembicaraan situasi atau kondisi alam, yang oleh kebanyakan orang dialami. Misalnya berbicara tentang musim kemarau, penghujan, tanam, pemandangan alam, situasi lalu lintas keseharian. Kata basa basi yang menyinggung perasaan ketika memasuki ranah pembicaraan pribadi, membuat penuturan menjadi terhenti dan beralih menghujam hati.

Jaga sikap sesuai budaya

Budaya merupakan situasi keyakinan seseorang akan tata nilai yang dianutnya. Kebanyakan orang menjunjung tinggi budayanya, karena itu pembicara yang memiliki adab hendaknya turut menjunjungnya. Jarak antara pembicara dan pendengar, sikap ketika berbicara, tampilan ketika menyampaikan pembicaraan, memberikan nilai tambah atau kurang seseorang akan pembicara. Menyapa dengan salam jabat tangan sendiri telah kita buktikan beragam. Bagaimana adat Betawi memberi salam, orang Sunda bersalaman, berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan memerlukan pemahaman akan izin budayanya. Tertawa, senyum, dan tatapan mata ketika berbicara ikut mewarnai kenyamanan suasana

Berusahalah memahami orang lain lebih dahulu

Manusia selalu ingin dipahami, maka pahamilah lebih dahulu orang lain sehingga kita mampu membuatnya memahami pembicaraan kita. Sebuah semboyan yang patut diacungi jempol di panti rehabilitasi, memberi pengertian bahwa seseorang dipahami dilakukan dengan: mendengarkan dengan perhatian, menatap mata/wajah lawan bicara, memberikan umpan balik (merespon), menyimak dengan memberikan simpulan pada akhir pembicaraan.

 

Ada pepatah “Mulutmu Harimaumu” , “Fitnah lebih kejam dari Pembunuhan”, “Memang lidah tak bertulang”. Dari sini tersirat bahwa lisan kita dimana lidah berperan didalamnya, dimana mulut ikut membentuk huruf, akan sangat tajam dampaknya.

 

Menjadi Pembicara Yang baik – Lentera Motivasi