Sebuah Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja

Renungan Kehidupan dari seorang nenek penjual nasi bungkus, “misi hidup dalam kerja”.

Suatu pagi, saya duduk di sebuah gardu sederhana di dekat pertigaan jalan menunggu bus yang akan mengantar saya pulang ke kota, setelah berkunjung ke tempat rekan saya di kampung. Saya baru sadar bahwa, jika jalan jelek di pertigaan itu merupakan gerbang menuju tempat penggalian pasir yang cukup besar di daerah tersebut.

Tidak lama kemudian datang sebuah truk yang sarat dengan para penumpang yang berhenti menurunkan para penumpangnya. Pakaian mereka lusuh, wamanya hampir mirip tanah atau pasir, dengan topi samak di kepala dan sepatu butut ala kadarnya sekadar alas kaki. Mata mereka tertuju satu titik jalan yang menanjak seakan mengisyaratkan ada yang ditunggu.

Tidak begitu lama sopir truk berteriak, “Tuh, si nenek datang !” Empat orang berlari menuju ujung tanjakan jalan membantu seorang nenek tua yang membawa bakul besar dengan ceret di tangan kanannya. Bakul dan ceret berisi air teh panas pun diangkat para kuli itu.

Misi Sebuah Kerja

Si Nenek duduk sambil mengipas-ngipaskan ujung kainnya sambil sesekali menyeka keringat di mukanya. Di lain pihak para kuli itu membongkar isi bakul besar tadi, ternyata isinya nasi bungkus, bala-bala, tempe goreng, dan sejenisnya. Segera mereka mengambil dan dengan lahap mereka menyantap nasi bungkus itu, yang merupakan sarapan hari ini.

Dalam waktu singkat makanan itu pun habis disantap para kuli pasir, dan kini giliran si nenek menerima sedikit uang recehan dari mereka sebagai ganti makan yang disantap. Saya sempat bertanya kepada salah seorang kuli pasir yang duduk berdekatan dengan saya, “ Berapa harganya, kang? “ “Lumayan pak, Rp. 3000,- ( tiga ribu),” jawabnya. “Enak, kang?“ tanya saya lagi. “Ah yang penting kenyang dan murah, pak,” jawab dia.

Hampir tidak percaya ada orang yang berdagang dengan harga yang sedemikian murah. Lalu apa untungnya? Itu yang ada di benak saya.

Setelah para kuli pasir itu selesai membayar makanan yang disantapnya, satu persatu mendekati truk yang akan mengangkut mereka ke lokasi penggalian pasir, kepulan asap rokok linting pun keluar dari mulut para kuli itu, .. ah nikmat sepertinya.

Saya coba mendekati dan bertanya kepada nenek tua itu. “Nek.. murah sekali dagangannya, apa ada untungnya?” Si nenek tua itu terkekeh sambil menjawab, “ Alhamdulillah bisa numpang makan dan beli sabun.” “Tapi bukankah bisa sedikit dinaikkan harganya, nek ?” lanjut saya.

Sekali lagi si nenek terkekeh menjawab, “Lalu bagaimana para kuli pasir itu bisa beli ? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka ?” katanya sambil menunjuk para lelaki tukang kuli pasir itu yang kini melompat satu demi satu ke atas truk yang akan mengantarkan mereka ke tempat penggalian pasir.

Ah…. luar biasa, bila sebuah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja.

Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana orang tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan bagi sesama manusia, bagaikan sebuah tiang penyangga agar langit ini tidak runtuh.

Merekalah beludru halus yang membuat jalan terjal keras dan berbatu kasar, menjadi lembut dan halus bahkan mampu mengobati luka sekalipun, bukankah demikian tugas kita dalam sebuah pekerjaan yakni menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama

Sesaat kemudian, bus yang saya tunggu pun datang. Kemudian, saya pamit kepada si nenek yang masih sibuk meluruskan kakinya sambil menghitung uang recehan dan secuil kerias berupa cacatan kecil dari beberapa orang kuli yang hari itu menghutang, tidak kurang dari sepuluh orang yang berhutang hari itu.

Saya keluarkan uang ala kadarnya dari dompet saya, “Nek yang sepuluh orang itu saya yang bayar, selebihnya buat nenek,” kata saya sambil pergi menuju bus yang sudah berhenti.

Di dalam bus, sambil duduk pikiran saya menerawang, Ya Allah Andai yang punya pikiran seperti si nenek itu orang-orang besar dan para pengambil keputusan di negeri ini? Indah nian negeri tercinta ini…..

Terkadang sikap dan perilaku bijak sering jauh dari orang yang dililit kekuasaan politik dan kekayaan, sebaliknya, terpaan kesulitan dan kemiskinan terkadang membuat hidup jadi jauh lebih bijak.

 

Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja – Lentera Renungan

Loading...
loading...

About lenteraku

Meskipun sinarnya redup namun bisa memberi setitik cahaya di kegelapan