Menghadapi Krisis Keuangan

Krisis bukan hanya membuat orang panik, tetapi juga membuat lahirnya jiwa kepemimpinan atau pemimpin dan keterampilan baru diri untuk berubah. Dengan krisis orang belajar mengenali tanda-tanda akan terjadinya krisis, sebuah sistem alarm kewaspadaan, kemudian membangun sistem dan strategi baru dikecamuk krisis.

Dalam perjalanan hidup cukup panjang, pada suatu saat kita akan menghadapi krisis sesungguhnya atau harus mengelola kejadian. Semua krisis akan membuat orang syok dan marah. Apapun penyebab krisis, kita tiba-tiba merasa dunia runtuh, tempat berpijak longsor, uang hilang, karir hancur, sehingga ketika orang-orang mencoba bersimpati kepada anda dan menanyakan perihalnya, kita akan marah, menarik diri ataupun bertindak diluar kendali lainnya. Situasi pekerjaan, keluarga dan masyarakat seakan memberi tekanan pada diri ketika krisis menjadi ’milik’ diri.

Menghadapi Krisis Keuangan

Krisis Keuangan

Memarkir uang tidak hanya dilakukan di tabungan, deposito, atau emas. Masyarakat modern dengan perubahan cepat juga meletakkan simpanannya pada saham atau surat berharga lainnya. Saham yang anjlok di Wallstreet, ternyata menggonjang ganjingkan pasar saham di Indonesia. Para pemain saham mengalami rasa syok yang hebat, bahkan ada bank yang kesulitan likuiditas, para nasabah yang menyimpan uang di bank dan meletakkan sebagian hartanya di saham ikut tertekan suasana hatinya.

Pemerintah, dalam hal ini para pejabat sektor keuangan dan pelaku bisnis bekerja keras sampai larut malam di hari libur untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan ekonomi. Kapal usaha oleng, pengusaha memutuskan PHK bagi pekerjanya.

Terjadinya kepanikan pada individu yang kehilangan pekerjaan, kepanikan pada keluarga dan stress atas ancaman belanja keluarga, masyarakat menjadi resah dan mudah marah, dan banyak kepanikan lainnya. Cobalah untuk berhenti sejenak, amati sekeliling, kelola diri, tenangkan diri sendiri dan keluarga. Langkah kedua adalah membereskan catatan kekayaan yang dikelola dan segera pahami jalan keluarnya.

Selanjutnya, lakukan pengenalan diri dan pencatatan kompetensi dan skill yang dipunyai, lirik pekerjaan tambahan yang mungkin sesuai dengan kompetensi yang ada.

Tumbuhkan semangat baru untuk memulai aktivitas tersebut untuk menolong belanja keluarga. Kata bijak, “Akal akan muncul ketika kaki terinjak” menunjukkan bahwa jalan akan terbuka ketika berada dalam kesulitan.

 

Menghadapi Krisis Keuangan – Lentera Motivasi