Motivasi Menghadapi Krisis Perkawinan

Lentera Motivasi Keluarga. Terkadang sebuah keluarga dapat mengalami krisis perkawinan yang bisa dipicu oleh berbagai hal, mulai dari ketidaksesuaian kepribadian, latar belakang keluarga, filosofi hidup hingga soal ekonomi. Menghadapi krisis dalam perkawinan tidaklah selalu mudah diselesaikan, tetapi bukan berarti akan berakhir semua persoalan dengan perceraian.

Roberto Bell dalam Help Your Marriage Out Of A Crisis memberi motivasi kepada keluarga yang mengalami krisis perkawinan, bagaimana untuk dapat mengatasinya.

Motivasi Menghadapi Krisis Perkawinan

Menghadapi Krisis Perkawinan

Buang semua intrik, isu, intervensi orang-orang lain dalam hubungan dua orang yang terikat dalam perkawinan. Batasi ruang lingkup hanya untuk pasangan yang terkait. Bersihkan lingkungan perkawinan dari rumput-rumput liar pengganggu perkawinan. Dengan membatasi lingkup maka kedua anggota pasangan akan berpikir lebih tenang dan diharapkan lebih jernih dan mudah konsentrasi pada ‘masalah’.

Dinginkan kepala, hangatkan hati.

Artinya turunkan amarah dan kebencian, buka diri untuk komunikasi, mulailah berbicara tentang hal yang kurang sarat emosi sampai ke yang sarat emosi. Adalah lebih baik jika setiap ada friksi dibicarakan masalahnya, agar tidak terjadi tabungan kebencian. Banyak pasangan yang menyingkirkan masalah dengan pura-pura tidak ada masalah dan menunggu dengan berjalannya waktu masalah akan selesai dengan sendirinya.

Buatlah perencanaan keuangan.

Kekhawatiran akan ketiadaan dana akan meretakkan pondasi perkawinan, meski perkawinan yang semula kukuh sekalipun. Persepsi akan besaran dana, perbaikan cara penggunaan uang dengan urutan prioritas akan memudahkan kesatuan pikiran menghadapi kesulitan keuangan. Bicarakan dari hati ke hati, turunkan emosi dan ‘kekuatan kekuasaan’. Susunlah rencana bersama sehingga pertengkaran dan perdebatan yang tidak perlu dapat diminimalisasi.

Tetapkan dan penuhi kualitas waktu bersama sehari-hari.

Banyak anggota keluarga yang tenggelam dalam rutinitas sehingga melupakan waktu bersama dalam keluarga. Mematikan tayangan televisi dan menggantikannya dengan ‘mengobrol bareng’ akan sangat membantu. Waktu ini dapat digunakan untuk membuka perasaan dan pengertian serta saling bertukar rasa.

Jangan mengkritik.

Banyak opini berbeda dari dua kepala anggota pasangan. Perbedaan pendapat, pandangan atau kesukaan merupakan pengisian dari spektrum warna perkawinan. Bila ditilik rasa salah atau kekurangan, maka akan banyak dijumpai ketidakpuasan, beralihlah pada kelebihan dan kekuatan individu pasangan sehingga kekaguman dan rasa membutuhkan dapat dibangkitkan. Kritik akan membuat kita terarah pada isu negatif dan menurunkan rasa percaya diri pasangan, sehingga mengobarkan rasa permusuhan. Yakinkan anda berada dalam satu tim yang memimpin keluarga ke arah cita-cita bersama.

 

Krisis perkawinan sebetulnya dapat dihindari ketika kita mau berbicara pada setiap menemukan hal baru.

 

Motivasi Menghadapi Krisis Perkawinan – Lentera Motivasi